Pernahkah Anda berdiri terlalu cepat dan merasa dunia berputar sesaat? Atau merasakan detak jantung Anda berdebar kencang setelah makan besar?

Momen-momen kecil ini mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih besar yang terjadi di dalam tubuh Anda. Sistem saraf otonom Anda bekerja dengan tenang setiap detik setiap hari, menjaga detak jantung Anda tetap stabil, pencernaan Anda tetap berjalan, dan tekanan darah Anda tetap terkontrol.

Namun, ketika sistem tersebut berhenti berfungsi dengan baik, hasilnya bisa mengganggu, membingungkan, dan terkadang melemahkan.

Gangguan otonom lebih umum daripada yang disadari banyak orang, dan memahami dasar-dasarnya dapat membuat perbedaan nyata dalam mendapatkan bantuan yang tepat.

Memahami Sistem Saraf Otonom

Sebelum membahas apa yang salah, ada baiknya memahami apa sebenarnya fungsi sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf keseluruhan Anda yang mengontrol fungsi otomatis tubuh Anda yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup.

Ini adalah proses yang tidak Anda pikirkan dan yang dikelola oleh otak Anda saat Anda terjaga atau tidur.

Anggap saja ini sebagai perangkat lunak latar belakang tubuh Anda yang berjalan terus-menerus, tanpa Anda perlu mengklik satu tombol pun.

Dua Cabang Utama

Sistem saraf otonom memiliki dua divisi utama: sistem simpatik, yang merupakan sistem "lawan atau lari", dan sistem parasimpatik, yang merupakan sistem "istirahat dan pencernaan".

Sistem simpatik memobilisasi energi untuk bertindak dengan meningkatkan detak jantung dan melebarkan pupil, sedangkan sistem parasimpatis menghemat energi dengan memperlambat detak jantung dan merangsang pencernaan.

Kedua cabang ini bekerja seperti mitra, bergiliran tergantung pada apa yang dibutuhkan tubuh Anda pada saat tertentu.

Sistem Saraf Enterik

Ada juga divisi ketiga yang perlu diketahui. Sistem saraf otonom terdiri dari tiga divisi yang berbeda secara anatomi: simpatik, parasimpatik, dan enterik.

Sistem parasimpatik memfasilitasi proses "istirahat dan pencernaan", mendorong fungsi homeostasis seperti mengatur detak jantung dan memulihkan peristaltik gastrointestinal serta pencernaan.

Sistem enterik kadang-kadang disebut sebagai "otak kedua" karena mengelola usus hampir secara independen, mengoordinasikan pencernaan dari awal hingga akhir.

Apa yang Terjadi Ketika Sistem Otonom Gagal?

Ketika sistem saraf otonom tidak berfungsi dengan benar, tubuh kehilangan kemampuannya untuk menjaga keseimbangan antara sistem internalnya. Gangguan inilah yang menyebabkan berbagai macam gangguan otonom, dan merupakan perhatian utama dalam bidang ini. Neurologi Gangguan Otonom.

Kesulitannya adalah kondisi-kondisi ini sekilas tampak mirip dengan masalah kesehatan lainnya. Orang sering menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan diagnosis yang akurat.

Gejala Umum yang Mungkin Anda Alami

Penderita gangguan otonom mengalami kesulitan mengatur satu atau lebih sistem tubuh, yang dapat mengakibatkan pingsan, pusing, fluktuasi tekanan darah, dan gejala lainnya.

Gangguan sistem saraf otonom dapat terjadi sendiri atau sebagai akibat dari penyakit lain, seperti penyakit Parkinson, kanker, penyakit autoimun, penyalahgunaan alkohol, atau diabetes.

Gejala lain yang umum dilaporkan meliputi:

  • Detak jantung cepat atau tidak teratur saat istirahat atau saat berganti posisi.
  • Masalah pencernaan termasuk mual, kembung, dan gastroparesis
  • Keringat berlebihan atau berkurang
  • Disfungsi kandung kemih
  • Kelelahan dan intoleransi terhadap olahraga
  • Kesulitan berpikir jernih, terkadang disebut kabut otak.

Bagaimana Denyut Jantung dan Tekanan Darah Terpengaruh

Sistem saraf otonom mengatur seberapa cepat dan kuat jantung memompa serta lebar pembuluh darah. Kemampuan itulah yang memungkinkan sistem otonom membantu mengelola detak jantung dan tekanan darah.

Ketika pengaturan ini gagal, darah dapat menumpuk di bagian bawah tubuh, tekanan dapat turun secara tiba-tiba, atau jantung dapat berdetak kencang tanpa pemicu yang jelas.

Jenis-Jenis Gangguan Otonom yang Paling Umum

Terdapat setidaknya 15 bentuk gangguan otonom yang diakui, yang secara kolektif disebut sebagai disautonomia. Beberapa di antaranya ringan dan dapat dikelola, sementara yang lain secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gangguan otonom yang paling umum ditemui dalam praktik klinis adalah sindrom takikardia ortostatik postural (POTS), sinkop neurokardiogenik, dan hipotensi ortostatik, yang mungkin tidak terdiagnosis atau sering salah dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan.

POTS: Ketika Berdiri Tegak Adalah Sebuah Tantangan

Salah satu gangguan sistem saraf otonom yang paling sering didiagnosis, terutama pada wanita muda, adalah sindrom takikardia ortostatik postural (POTS). Berbeda dengan kondisi yang ditandai dengan tekanan darah rendah, POTS ditandai dengan peningkatan detak jantung yang berlebihan saat berdiri.

Gejala POTS meliputi pusing, kadang-kadang disertai pingsan, kesulitan berpikir dan berkonsentrasi, yang disebut sebagai kabut otak, kelelahan, intoleransi terhadap olahraga, sakit kepala, penglihatan kabur, dan jantung berdebar.

Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darah secara tiba-tiba yang terjadi ketika seseorang berdiri, menyebabkan tekanan darah rendah dalam posisi tegak. Hal ini menyebabkan penurunan suplai darah ke otak. Kondisi ini biasanya menyebabkan seseorang merasa pusing atau kepala terasa ringan.

Hal ini terjadi karena pembuluh darah tidak berkontraksi cukup cepat untuk mendorong darah kembali ke otak saat Anda bangun.

Sinkop Neurokardiogenik

Sinkop neurokardiogenik adalah disautonomia yang paling umum, mempengaruhi puluhan juta orang di seluruh dunia. Gejala utamanya adalah pingsan. Sistem saraf otonom yang sehat menyesuaikan detak jantung dan kekencangan otot untuk mencegah darah menggenang di kaki dan telapak kaki, tetapi sinkop neurokardiogenik melibatkan kegagalan dalam mekanisme tersebut, dan hilangnya sirkulasi darah sementara di otak menyebabkan pingsan.

Hubungan Pencernaan

Banyak orang dengan gangguan otonom terkejut mengetahui betapa eratnya fungsi usus terkait dengan sistem saraf. Sistem pencernaan tidak bekerja secara terisolasi. Sistem ini sangat bergantung pada sinyal otonom untuk mengetahui kapan harus menggerakkan makanan, kapan harus mengeluarkan enzim, dan bagaimana mengatur aliran darah.

Bagaimana Usus Mengalami Gangguan

Selama proses pencernaan, darah tambahan dialihkan ke lambung dan usus kecil, menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan lebih keras sementara pembuluh darah yang jauh dari sistem pencernaan menyempit.

Tindakan-tindakan ini menjaga tekanan darah dan aliran darah ke seluruh tubuh. Namun, pada orang dengan hipotensi postprandial, proses ini menjadi terganggu.

Sistem saraf parasimpatik merangsang saluran pencernaan untuk memproses makanan dan membuang limbah. Energi dari makanan yang diproses digunakan untuk memulihkan dan membangun jaringan.

Ketika sinyal parasimpatik lemah atau tidak berfungsi dengan baik, pencernaan melambat, makanan berada di perut terlalu lama, dan gejala seperti kembung, mual, dan kebiasaan buang air besar yang tidak teratur menjadi masalah sehari-hari.

Apa Penyebab Gangguan Otonom?

Gangguan otonom tidak selalu memiliki satu penyebab yang jelas. Gangguan ini dapat berkembang dengan sendirinya atau muncul sebagai efek sekunder dari kondisi lain.

Penyebab Utama

Beberapa gangguan otonom diwariskan atau berkembang tanpa pemicu yang dapat diidentifikasi. Gangguan ini dikenal sebagai disautonomia primer. Kondisi seperti disautonomia familial dan atrofi sistem multipel termasuk dalam kategori ini.

Kondisi yang Dapat Memicunya

Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan atau berkontribusi terhadap disautonomia, termasuk diabetes melitus, penyakit autoimun seperti sindrom Guillain-Barré, infeksi COVID-19, terutama COVID jangka panjang, penyakit Parkinson, sindrom Ehlers-Danlos, sklerosis multipel, dan obat-obatan atau prosedur medis tertentu.

Kategori contoh
Kondisi metabolik Diabetes, disfungsi tiroid
Penyakit autoimun Lupus, sindrom Sjogren
Kondisi neurologis Penyakit Parkinson, atrofi sistem multipel
Infeksi Long COVID, penyakit Lyme
Kelainan genetik Disautonomia keluarga, Ehlers-Danlos
Obat Agen kemoterapi tertentu

Mendapatkan Diagnosis dan Perawatan

Mendiagnosis gangguan otonom membutuhkan kesabaran dan spesialis yang tepat. Gejalanya tumpang tindih dengan begitu banyak kondisi lain sehingga kesalahan diagnosis sering terjadi. Institusi seperti Rumah Sakit Liv Menangani kasus-kasus ini dengan tim multidisiplin, dengan menyadari bahwa disfungsi otonom memengaruhi jantung, usus, ginjal, dan otak secara bersamaan.

Tes Diagnostik

Selama pemeriksaan fisik, dokter memeriksa tanda-tanda gangguan otonom seperti hipotensi ortostatik. Mereka mengukur tekanan darah dan detak jantung saat seseorang berbaring atau duduk dan setelah orang tersebut berdiri.

Saat seseorang berdiri, tekanan darah menurun. Untuk mengimbangi hal ini, jantung memompa lebih keras dan detak jantung meningkat. Pada orang sehat, perubahan ini sedikit dan singkat. Jika perubahannya lebih besar atau berlangsung lebih lama, orang tersebut mungkin mengalami hipotensi ortostatik.

Tes lain yang digunakan dalam diagnosis meliputi:

  1. Tes meja miring untuk memantau perubahan detak jantung dan tekanan darah dengan posisi tubuh.
  2. Pemeriksaan refleks otonom untuk menilai fungsi kelenjar keringat dan respons tekanan darah.
  3. Pengujian keringat termoregulasi
  4. Tes motilitas gastrointestinal untuk dugaan keterlibatan pencernaan.
  5. Tes darah dan urine untuk memeriksa kondisi yang mendasarinya.

Pilihan pengobatan

Pengobatan gangguan otonom umum meliputi suplementasi garam dan cairan, program latihan khusus dalam posisi berbaring dan telentang, serta intervensi farmakologis dengan beta blocker, vasokonstriktor, analog aldosteron, dan agen lain yang menargetkan mekanisme mendasar dari gangguan otonom.

Penyesuaian gaya hidup juga memainkan peran penting. Menurut Cleveland ClinicMengelola gangguan otonom seringkali membutuhkan kombinasi pengobatan, fisioterapi, perubahan pola makan, dan pengaturan aktivitas yang cermat yang disesuaikan dengan pasien masing-masing.

Final Thoughts

Gangguan otonom berada di persimpangan kardiologi, gastroenterologi, dan neurologi, yang merupakan salah satu alasan mengapa gangguan ini sering disalahpahami. Ketika saraf Anda berhenti berkomunikasi dengan baik dengan jantung, pembuluh darah, dan usus, efek domino yang ditimbulkannya akan memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami pusing yang tidak dapat dijelaskan, detak jantung tidak teratur, masalah pencernaan, atau pingsan, melakukan evaluasi dengan spesialis yang memahami sistem saraf otonom adalah langkah selanjutnya yang praktis dan penting.